Tentang Passion dan Ikigai

Salah satu kutipan yang membekas di hati saya saat masih di bangku kuliah adalah “follow your passion“. Saya membayangkan betapa bahagianya jika kita bisa menghidupi diri dari apa yang kita sukai. Namun kenyataan pahitnya adalah passion tidak selalu bisa menghidupi. Lalu bagaimana cara kita mengejar kebahagiaan?. Apakah menyerah mengejar passion adalah pilihan yang tepat? atau sebaliknya?. Akhirnya saya menemukan jawaban saya atas kegelisahan ini pada sebuah konsep yang disebut ikigai. Passion dan ikigai saling beririsan, meskipun keduanya memiliki perbedaan yang jelas.

Pencarian Passion

Sebelum berbicara mengenai bagaimana hidup dari passion atau minat. Kita harus tahu dulu sebenarnya passion kita apa. Seringkali kita terjebak trend. Kita salah menilai perasaan fear of missing out (FOMO) sebagai passion. Kadang kita juga terjebak menentukan passion berdasarkan passion orang lain.

Sebelumnya saya pernah cukup serius mendalami fotografi. Saya berpikir bahwa passion adalah sesuatu yang berbebtuk hobi. Dan memang pada waktu itu fotografi digital sedang booming. Saya pun mengikuti trend tersebut. Alhasil tidak bertahan lama.


“Do what you love, and love what you do”


Minat atau passion adalah sesuatu yang sangat pribadi. Sangat khusus hanya untuk kita. Tidak bisa sekedar ikut-ikutan. Bisa jadi passion atau minat kita adalah sesuatu yang tidak ada duanya di dunia ini. Memang kita bisa mengambil role model yang sudah ada, tetapi passion kita tidak mungkin sama persis dengan role model kita.

Tips pencarian passion terbaik yang saya miliki adalah dengan mencari benang merah dari beberapa hal yang kita sukai. Misalnya saya suka menulis, kemudian saya suka bercerita, kemudian saya suka menganalisa data. Kalau saya ambil benang merahnya passion saya adalah bercerita, karena dari beberapa hal yang saya sukai ada unsur story tellingnya. Kemudian karena memang ini passion saya, meskipun berbagai ujian menerpa saya tetap berusaha konsisten.

Passion vs Mata Pencaharian

Tentunya passion yang menjadi mata pencaharian adalah idaman semua orang. Kata-kata bijak “Do what you love, and love what you do” benar-benar senikmat itu. Sebaliknya kenyataan sering berkata lain. Setidaknya sepanjang yang saya ingat tidak banak orang yang bisa mendapatkan dream job, mempunyai passion sekaligus sebagai mata pencaharian. Ketika kita dihadapkan pada kenyataan ini, apa yang harus kita dahulukan?.

Jawaban yang saya temukan adalah keduanya sama pentingnya. Kita tidak bisa hidup tanpa mata pencaharian seperti halnya kita tidak pernah merasa hidup tanpa passion. Kedua hal ini merupakan kebutuhan dasar manusia. Lalu bagaimana menyiasatinya? Saya menemukan podcast di youtube yang menurut saya menarik. Interview antara Mas Farid Stevy dan Mas Inu.

Mas Farid menyiasati ketidak cocokan passion dengan mata pencaharian dengan membagi dirinya menjadi tiga bagian. Ya meskipun agak sulit mengatakan bahwa Mas Farid ini tidak memiliki dream job. Tetapi saya berpikir bahwa cara ini mungkin bisa dipakai untuk menyiasati ketidak cocokan antara passion dan mata pencaharian. Caranya adalah membagi hidup kita menjadi beberapa bagian. Minimal menjadi dua bagian, yang pertama adalah bagian mencari uang atau mata pencaharian. Ini adalah irisan dimana kita memiliki skillnya dan ada yang bersedia membayar. Bagian yang kedua adalah bagian passion kita, yaitu dimana kita memiliki minat, dan mungkin kita juga memiliki skillnya tetapi tidak ada yang bersedia membayar kita. Dengan ada dua kehidupan itu maka kebutuhan dasar kita bisa terpenuhi.

Konsep Ikigai dan Hubungannya dengan Passion

Konsep ikigai, konsep ini tidak hanya mengedepankan passion tetapi juga aspek lain yang penting untuk kebahagiaan
Konsep Ikigai

Orang jepang memiliki pendekatan yang lebih lengkap terkait kebahagiaan. Mereka menyebutnya dengan ikigai. Dalam konsep ikigai, untuk mencapai kebahagiaan tidak hanya menitik beratkan pada passion saja, setidaknya ada 4 hal yang kalau bisa beririsan yaitu:

  1. Hal yang kita sukai
  2. Sesuatu yang kita kuasai skillnya
  3. Apa yang bisa menghidupi kita
  4. Suatu hal yang dibutuhkan oleh dunia dari kita

Ketika kita bisa menggabungkan keempat hal di atas menjadi satu, maka kita sudah mencapai ikigai. Kita sudah komplit atau fulfill. Tetapi kalaupun kita tidak bisa membuat irisan dari keempat hal tersebut maka kita bisa membagi hidup kita menjadi 4 bagian. Seperti yang kita temukan di podcast beginu. Tapi setidaknya kita punya dua bagian. Yang pertama tentu mata pencaharian, yang kedua bisa salah satu dari tiga hal lainnya.

Kompas Kebahagiaan

Kebahagiaan bukan sesuatu keniscayaan, tetapi sesuatu yang harus kita perjuangkan. Saya kira kita sepakat tentang hal itu. Tapi harus kemana kita memperjuangkan kebahagiaan itu?. Ini masih menjadi pernyataan yang sulit dijawab oleh sebagian besar dari kita. Apakah harus mengejar passion? atau mengejar harta misalnya.

Untuk memfokuskan usaha dalam mencari kebahagiaan kita bisa melakukan pendekatan ikigai ini. Pertama tentukan keempat hal tadi, kemudian kita usahakan agar keempat hal itu saling beririsan. Tidak perlu memaksakan, nikmati saja prosesnya. Semoga anda segera menemukan passion dan ikigai anda sendiri, Salam!

Tinggalkan komentar