Tenaga Uap?

Mungkin sudah terlalu terlambat untuk membicarakan tentang tenaga uap/ steam. Tapi tidak ada salahnya toh ternyata saya sendiri juga baru paham bagaimana sih sebenarnya penggunaan tenaga uap air?.

Saya yakin kita semua sudah pernah mendengar tentang tenaga uap air. Saya masih ingat dulu di sekolah dasar saya diajari bahwa dahulu kereta api tidak seperti sekarang (menggunakan tenaga disel dan listrik) tapi menggunakan tenaga uap air. Mungkin itu juga yang membuat kereta ini dinamakan kereta api, karena memang kereta ini tidak bisa berjalan tanpa api. Kemudian pada saat di sekolah tingkat pertama kita belajar tentang revolusi industri di Inggris. Bahkan semua mata pelajaran pada saat itu dikaitkan dengan revolusi industri. Karena memang revolusi industri di Inggris merupakan sejarah yang sangat besar. Nah, apakah yang menyebabkan terjadinya revolusi industri di Inggris? Jawabannya tak lain tak bukan adalah penggunaan tenaga uap air atau steam untuk industri. Inilah yang menjadi dasar dari revolusi industri selanjutnya hingga sampai saat ini kita sudah berada di ambang pintu revolusi industri yang ke 4.

Steam atau uap air dihasilkan dari pemanasan air. Air yang merupakan benda cair ketika dipanaskan akan berubah menjadi benda gas, nah air dalam wujud gas ini lah uap air. Uap air mempunyai tekanan dan bisa dimampatkan. Tekanan inilah yang banyak digunakan untuk menggerakkan turbin sehingga bisa menghasilkan listrik. Uap air seakan menjadi jembatan perubahan bentuk energi dari energi panas ke energi mekanik kemudian menjadi energi listrik. Prinsip ini banyak diterapkan pada pembangkit energi bahkan pembangkit energi nuklir. Reaksi inti pada reaktor nuklir akan menghasilkan panas yang kemudian akan memanaskan air yang kmudian upanya digunakan untuk memutar turbin hingga menghasilkan listrik. Penggunaan uap air tidak hanya untuk energi, tetapi juga bisa sebagai pemanas, pendingin, untuk mensterilkan peralatan industri farmasi masih banyak penggunaannya.

Kemudian saya berpikir mengapa di Indonesia penggunaan steam ini belum begitu massif. Mungkin ini juga yang membuat energi di Indonesia masih “mahal”. Lalu bagaimana kita menghadapi revolusi industri yang ke 4.0 sementara kita belum melewati tahapan revolusi industri yang pertama?

Salam!

Leave a Reply