Strategi Pengendalian Penyakit Jembrana

Penyakit Jembrana saat ini masih menjadi pekerjaan rumah bagi pengembangan Sapi Bali. Potensi sapi bali sebagai sapi potong sudah terbukti luar biasa, namun tanpa strategi pengendalian yang tepat maka cita-cita menjadikan sapi bali sebagai komponen pemenuhan swasembada daging masih akan sulit terwujud.

Etiologi

Penyakit jembrana merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus jembrana. Penyebutan penyakit Jembrana sendiri merujuk kepada nama daerah di Bali yaitu tempat virus Jembrana berasal. Virus jembrana atau Jembrana Disease Virus (JDV) merupakan anggota dari genus lentivirinae dalam sub-famili orthoretrovirinae dan famili retrovirinae. JDV merupakan virus RNA.

Continue reading

Hormon Reproduksi pada Sapi Betina

Sekilas tentang Hormon

Untuk bisa memahami gangguan reproduksi, khususnya pada hewan ruminansia kita wajib hukumnya memahami tentang hormon-hormon yang terlibat dalam sistem reproduksi. Hormon adalah substansi kimia yang memiliki fungsi sebagai pembawa pesan antara satu kelompok sel dengan kelompok sel lain. Hormon bekerja secara spesifik jadi hanya sel yang mempunyai reseptor yang bisa menerima pesan tersebut. Hormon bisa dianalogikan sebagai pembawa pesan dalam masa perang yang bertugas menyampaikan pesan terenkripsi yang hanya bisa dimengerti oleh kelompok target penerima pesan. Hal ini dikenal dengan istilah gembok dan kunci.

Continue reading

Diagnosa Kebuntingan pada Ruminansia Besar

Diagnosa kebuntingan pada ruminansia besar memiliki nilai ekonomi yang cukup besar. Sangat penting bagi peternak untuk mengetahui apakah ternaknya buntung atau tidak. Keterlambatan kebuntingan akan menyebabkan keurgian pada peternak, kerugian berupa kerugian biaya pakan yang harus dikeluarkan dan kerugian waktu.

Diagnosa kebuntingan dapat dilakukan dengan beberapa cara:

  1. Betina menolak untuk dikawini. Cara ini merupakan cara tradisional untuk mendiagnosa kebuntingan, caranya dengan mengamati 21  hari setelah indukan sapi dikawinkan atau diinseminasi, jika indukan menolak untuk dikawinkan maka indukan tersebut diduga bunting. Cara ini biasanya dilakukan untuk mencegah inseminasi pada indukan bunting yang akan menyebabkab aborsi.
  2. Pengukuran kadar progesteron juga dapat digunakan sebagai diagnosa kebuntingan pada sapi. Peeriksaan dengan cara ini meminimalkan pengaruh yang dapat timbul akibat pemeriksaan dengan cara palpasi rektal.
  3. Pemeriksaan protein spesisfik pada kebuntingan (pregnancy-spesific protein). Untuk memeriksa keberadaan portein ini dilakukan pemeriksaan secara imunologis pada serum hewan yang diduga bunting.
  4. Pemeriksaan dengan menggunakan USG. Pemeriksaan menggunakan USG dapat dilakukan setelah hari kke-17.
  5. Palpasi fetus. Cara ini merupakan cara yang langsung memeriksa adanya fetus dalam uterus. Cara ini aman dilakukan namun dapat dilakukan setelah fetus berumur 40 hari.

Bahan Bacaan

Ball, PJH & AR Peters. Reproduction in Cattle 3rd Edition. UK: Blackwell Publishing

http://www.articlesbase.com