Strategi Pengendalian Penyakit Jembrana

Penyakit Jembrana saat ini masih menjadi pekerjaan rumah bagi pengembangan Sapi Bali. Potensi sapi bali sebagai sapi potong sudah terbukti luar biasa, namun tanpa strategi pengendalian yang tepat maka cita-cita menjadikan sapi bali sebagai komponen pemenuhan swasembada daging masih akan sulit terwujud.

Etiologi

Penyakit jembrana merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus jembrana. Penyebutan penyakit Jembrana sendiri merujuk kepada nama daerah di Bali yaitu tempat virus Jembrana berasal. Virus jembrana atau Jembrana Disease Virus (JDV) merupakan anggota dari genus lentivirinae dalam sub-famili orthoretrovirinae dan famili retrovirinae. JDV merupakan virus RNA.

Transmisi dan distribusi

Distribusi

Penyakit jembrana pertama kali dilaporkan pada tahun 1964 di jembrana Bali dengan mortalitas 98%. Saat ini jembrana sudah menyebar ke beberapa provinsi di Indonesia (sebagian besar Sumatera, Kalimantan dan Nusa Tenggara).

Transmisi

Penyakit jembrana menular melalui serangga pengisap darah. Vektor pembawa antigen ini hanya bertindak sebagai vektor mekanis. Peran vektor serangga pada penyebaran penyakit jembrana dibuktikan dengan jarak penyebaran yang relatif dekat dan tingginya kejadian saat musim hujan (populasi serangga tinggi). Penyebaran jembrana juga bisa melalui penggunaan jarum suntik yang terkontaminasi. Oleh karena itu sangat penting untuk menggunakan jarum suntik disposable. Selain itu penyakit jembrana juga bisa menular dengan cara kontak langsung dengan hewan terinfeksi atau kontak dengan peralatan yang terkontaminasi

Gejala Klinis

Gejala Penyakit Jembrana (Jembrana Disease) pada sapi bali. Pembengkakan pada limphonodus prefemoralis
Pembengkakan pada limphonoudus prefemoralis

Penyakit Jembrana merupakan penyakit dengan mortalitas dan morbiditas sangat tinggi terutama pada daerah yang masih virgin. Penyakit jembrana termasuk penyakit yang menyebabkan penurunan sistem kekebalan tubuh. Gejala yang timbul bisa dipengaruhi oleh infeksi sekunder yang masuk mengikuti penyakit jembrana. Secara umum gejala klinis yang timbul adalah demam, lesu, tidak nafsu makan, enggan bergerak, pembengkakan limfonodus superfisial terutama ln scapularis  dan ln prefemoralis, hipersalivasi, diare berdarah dan keringat darah. Perubahan patologi yang terjadi antara lain pembesaran limpa, dan pembesaran kelenjar pertahanan di seluruh tubuh terutama pada limfonodus superfisial.

Gejala Penyakit Jembrana. Pembengkakan pada limphonodus prescapularis.
Pembengkakan limphonodus prefemoralis

Diagnosa

                Diagnosa penyakit jembrana dapat dilakukan dari observasi gejala klinis dan riwayat lalu lintas ternak. Gejala klinis yang sering ditemukan adalah adanya pembengkakan limfonodus superfisial. Selain itu gejala yang cukup khas [ada penyakit jembrana adalah adanya keringat darah atau pendarahan pada pembuluh darah perifer. Akan tetapi pada kasus yang akut gejala keringat darah tidak selalu muncul. Biasanya hewan sudah mati sebelum gejala keringat darah muncul.

Identifikasi agen penyakit dilakukan dengan menggunakan metode PCR. DIgnosa secara serologis juga dapat dilakukan dengan menggunakan metode ELISA.

Pengendalian penyakit

Pembatasan pergerakan hewan terinfeksi

                Pembatasan pergerakan hewan pada daerah terinfeksi merupakan cara yang paling mungkin dilakukan untuk mencegah penyebaran penyakit jembrana. Kasus wabah penyakit jembrana pada suatu daerah akan memicu perpindahan ternak secara besar-besaran. Terutama pada daerah dengan pola pemeliharaan sistem integrasi dengan kelapa sawit. Penyakit jembrana akan menular dengan sangat cepat dari satu kawanan ke kawanan yang lain. Hal ini akan menimbulkan kepanikan pada kelompok pemilik ternak yang akhirnya akan menjual ternak sapi bali dengan harga murah. Penjualan banting harga ini sangat menggiurkan bagi peternak di daerah sekitar yang akhirnya akan menyebarkan penyakit jembrana ini lebih luas lagi. Penyebaran penyakit jembrana juga bias terjadi dari tempat-tempat penampungan ternak sebelum dipotong. Rendahnya kesadaran peternak dan lemahnya penegakan aturan masih menjadi pekerjaan rumah yang berat dalam pengendalian penyakit jembrana.

Vaksinasi

                Saat ini vaksinasi menjadi pilihan utama dalam pengendalian penyakit jembrana. Kendatipun Sudah tersedia vaksin jembrana di pasaran namun ketersediaan suplai vaksin masih sangat terbatas. PUSVETMA masih menjadi pemain tunggal penyedia vaksin jembrana. Kurangnya pasokan vaksin bukan tanpa alasan, salah satunya adalah masih sulitnya membiakkan JDV secara in vitro. Saat ini produksi vaksin jembrana masih menggunakan hewan hidup sebagai media yang menyebabkan biaya produksi yang cukup besar. Penggunaan hewan sebagai media juga masih menyisakan bayang-bayang keraguan atas keamanan dari produk vaksin yang dihasilkan. Sebagian peternak masih enggan untuk melakukan vaksinasi dengan alas an masih adanya kejadian abortus pasca vaksinasi.

Biosekuriti

Biosekuriti juga merupakan langkah yang penting dalam pengendalian penyakit jembrana. Jembrana merupakan penyakit yang butuh jarak yang cukup dekat untuk menular dari satu hewan ke hewan yang lain. Manajemen biosekuriti yang baik akan menjadi langkah yang efektif untuk menghambat penyebaran penyakit. Penggunaan desinfektan juga dianjurkan dalam rangka pengendalian penyakit jembrana.

Penggunaan sapi jenis selain sapi bali juga menjadi opsi sebagai langkah dalam pengendalian penyakit jembrana. Hingga saat ini penyakit jembrana masih spesifik menyerang sapi bali saja. Yang terakhir tentu saja kerjasama semua pemangku kepentingan untuk mewujudkan Indonesia bebas penyakit Jembrana. Salam!

Leave a Reply