Sinkronisasi Estrus, Modifikasi Siklus Reproduksi agar Sapi Beranak Bersamaan

Sinkronisasi estrus merupakan salah satu modifikasi reproduksi pada sapi yang sering dilakukan setelah inseminasi buatan. Modifikasi siklus reproduksi ini bertujuan agar kita bisa memproduksi pedet atau anak sapi dengan secara bersamaan dalam jumlah yang besar. Jadi sinkronisasi estrus atau sinkronisasi birahi ini adalah menyeragamkan waktu birahi induk-induk sapi yang kita miliki. Tujuannya apa? tentunya untuk pemenuhan permintaan dan bisa juga sebagai strategi untuk mengantisipasi kelangkaan pakan, kondisi alam tertentu dan lain-lain.

Tujuan dan Keuntungan Sinkronisasi Estrus

Sinkronisasi estrus pada prinsipnya adalah penyeragaman siklus reproduksi, dalam hal ini adalah bagian estrus. Dengan penyeragaman ini kita bisa mengarahkan sinkronisasi estrus untuk tujuan:

  1. Mendapatkan pedet/ anak sapi dalam jumlah yang banyak pada waktu yang bersamaan. Tentunya ini akan memberikan keuntungan peternak karena bisa mengelola suplai yang dibutuhkan pasar. Misalnya untuk pemenuhan permintaan hewan qurban.
  2. Mengantisipasi kondisi alam misalnya ketersediaan pakan. Pada daerah yang ketersediaan pakan melimpah hanya pada musim-musim tertentu, sinkronisasi estrus sangat berguna. Dengan strategi ini kita bisa mengatur kapan sapi indukan mengandung dan melahirkan sehingga kita bisa sesuaikan dengan kondisi musim. Bisa juga karena alasan ketersediaan air atau kondisi banjir.
  3. Memudahkan pengamatan gejala estrus atau berahi sehingga meningkatkan keberhasilan inseminasi buatan.

Dasar Teori Modifikasi Reproduksi, Sinkronisasi Estrus

Dasar teori untuk melakukan sinkronisasi adalah dengan memodifikasi siklus reproduksi. Dengan memberikan hormon reproduksi maka panjang fase luteal dapat kita kontrol. Fase luteal bisa kita kontrol menjadi lebih panjang atau menjadi lebih pendek. Pengontrolan fase luteal ini akan memungkinkan kita untuk melakukan TAI (timed artificial insemination) yang merupakan tujuan dari sinkronisasi estrus.

Dari grafik di atas kita bisa melihat bahwa kadar hormon progesteron terus meningkat sampai akhirnya mendekati estrus kadar hormon tersebut drop. Hormon progesteron pada sapi diproduksi oleh corpus luteum (CL). Yang menyebabkan drop-nya kadar hormon progesteron adalah lisis-nya CL yang diakibatkan oleh hormon prostaglandin (Pgf2a). Dengan memberikan dua hormon ini kita bisa mengontrol jalannya siklus reproduksi sapi.

Metode Sinkronisasi Estrus

Seeperti yang sudah kita bahas sebelumnya bahwa ada dua hormon yang bisa kita gunakan untuk melakukan sinkronisasi estrus yaitu hormon progesteron dan hormon prostaglandin. Mari kita bahas satu persatu.

Hormon Prostaglandin (Pgf2a)

Hormon prostaglandin mempunyai fungsi untuk melisiskan CL. Dengan lisisnya CL produksi progesteron akan terhenti dan akan memicu terjadinya estrus. Ada dua metode sinkronisasi dengan prostaglandin:

  1. Single dose atau Pgf2a dosis tunggal. Untuk melakukan sinkronisasi dengan metode ini kita harus memastikan keberadaan corpus luteum fungsional. Pemberian pgf2a akan membuat CL fungsional lisis dan akan terjadi estrus. Estrus terjadi 2-5 hari setelah penyuntikan hormon pgf2a. Metode ini lebih hemat karena hanya memerlukan 1 dosis pgf2a tetapi memerlukan kemahiran dalam menentukan keberadaan CL fungsional.
  2. Double dose atau metode penyuntikan pgf2a dosis ganda. Secara prinsip sebenarnya tidak berbeda dengan metode dosis tunggal. Jika pada dosis tunggal mensyaratkan adanya CL fungsional maka pada metode dosis ganda tidak mensyaratkan CL fungsional. Jika hasil pemeriksaan ovarium menunjukkan siklus reproduksi pada fase folikular maka pgf2a dapat diberikan (dosis pertama). Dosis kedua diberikan 11 hari setelah penyuntikan dosis pertama. Estrus akan terjadi 2-5 hari setelah penyuntikan dosis kedua.
Protokol sinkronisasi estrus dengan hormon prostaglandin
Protokol Sinkronisasi Estrus dengan Pgf2a

Hormon Progesteron

Berbeda dengan penggunaan hormon pgf2a yang memperpendek fase luteal, hormon progesteron memperpanjang fase luteal. Metode sinkronisasi estrus dengan progesteron dilakukan dengan alat yang disebut CIDR (Controlled Internal Drug Release). CIDR merupakan suatu alat berbentuk batang yang dimasukkan kedalam vagina sapi. Prinsip dari CIDR adalah melepaskan progesteron secara perlahan (slow release). Tujuannya tentu saja untuk menjaga level progesteron tetap tinggi di dalam darah.

gambar cidr
CIDR (Controlled Internal Drug Release) sumber: Zoetis

Alat ini dibiarkan terpasang selama 7 hari kemudian dilepas dan langsung diberikan penyuntikan pgf2a. Perbedaannya dengan metode yang hanya menggunakan pgf2a saja adalah pada penggunaan CIDR fase luteal (keberadaan CL fungsional) lebih jelas.

Protokol sinkronisasi estrus dengan CIDR
sumber: https://beef.unl.edu/beefwatch/estrus-synchronization-protocols

Kerugian Sinkronisasi Estrus

Meskipun di atas kertas sinkronisasi berahi sangat menjanjikan tetapi pelaksanaan di lapangan tidak seindah teori. Yang sering dilupakan adalah bahwa program sinkronisasi estrus harus didasari dengan pemeriksaan status reproduksi yang kuat. Tanpa adanya pemeriksaan yang kuat maka akan sulit untuk mencapai pelaksanaan sinkronisasi estrus yang sukses. Selain itu ada beberapa kerugian yang mungkin timbul dari pelaksanaan sinkronisasi estrus, antara lain:

  • Abortus atau keguguran. Protokol sinkronisasi estrus dengan hormon prostaglandin menyasar target organ corpus luteum. Apabila petugas pemeriksa status reproduksi salah mengidentifikasi antara sapi yang sedang bunting dengan sapi yang mengalami fase luteal maka akan terjadi keguguran.
  • Sapi stress akibat pemeriksaan status reproduksi berulang.
  • Stigma buruk dari peternak akibat protokol yang tidak berjalan sesuai harapan. Peternak akan merasa enggan jika sapi yang disinkronkan estrusnya tidak kunjung menunjukkan gejala estrus.
  • Pengamatan berahi yang tidak cermat akibat terlalu terpaku dengan teori bahwa sapi akan mengalami estrus setelah 2-5 hari pasca penyuntikan hormon.

Mitos Sinkronisasi Estrus

Di samping manfaatnya yang cukup banyak, sinkronisasi estrus sering juga disalah artikan sebagai tindakan penanganan gangguan reproduksi. Padahal sinkronisasi hanya bisa dilakukan pada sapi yang mempunyai siklus normal. Artinya jika sapi tidak menunjukkan gejala estrus secara normal maka pemberian protokol sinkronisasi estrus tidak akan membantu, seharusnya dilakukan modifikasi reproduksi yang lain yang lebih cocok. Ini yang sering menjadi mitos, sapi yang tidak pernah menunjukkan gejala estrus secara normal malah dilakukan sinkronisasi estrus dengan harapan akan menunjukkan gejala estrus.

Apakah anda sering mendengar mitos yang sama? atau anda punya pengalaman atau pengetahuan lain terkait sinkronisasi estrus? Yuk berdiskusi di kolom komentar. Salam!

Tinggalkan komentar