Komodo (Varanus komodoensis) akhir-akhir ini memang ramai dibicarakan. Hal ini terkait keikutsertaan komodo dalam ajang pemilihan The New 7 Wonder. Ajang pemilihan komodo sebagai salah satu keajaiban dunia. Bangsa Indonesia tentu sangat bangga akan hal tersebut. Semua orang dengan caranya masing-masing memberikan dukungan kepada Komodo. Yang paling mudah tentunya dengan mengirimkan SMS KOMODO 9818.

Apakah Komodo tidak akan terusik dengan kehadiran para turis di habitat mereka? Apakah mereka akan tetap merasa nyaman?

Habitat komodo vs Wisata

Tetapi yang ingin saya soroti bukan tentang besarnya dukungan dan optimisme rakyat Indonesia akan hal ini. Beberapa hari lalu melalui jejaring sosial Facebook saya terlibat diskusi yang cukup menarik. Status dari teman saya yang mengajak untuk mengirimkan sms dukungan untuk Komodo mendapat respon yang menurut saya menarik. Intinya ada yang menanyakan bagaimana keadaan Komodo seandainya nanti terpilih menjadi The New 7 Wonder. Apakah Komodo akan tetap nyaman setelah Pulau Komodo menjadi tujuan wisata? Bagaimana dari segi ekologisnya?. Sangat menarik, di antara maraknya dukungan kepada Komodo ternyata ada yang menyangsikan hal itu.

Ekowisata, Pariwisata berbasis Ekologi

Terpilihnya Komodo menjadi salah satu kandidat The New 7 Wonder tentunya akan mempengaruhi kehidupan Komodo baik secara langsung maupun secara tak langsung. Turis baik manca negara maupun lokal banyak yang tertarik untuk datang ke pulau Komodo. Tentunya ini akan membuat perekonomian di Pulau Komodo meningkat. Penduduk sekitar akan ikut merasakan keuntungan secara ekonomi. Seiring dengan peningkatan ekonomi tentunya akan membuat komodo lebih lestari. Karena masyarakat akan lebih sayang dengan Komodo.

Di sisi lain tentu timbul kekhawatiran Komodo merasakan ketidak kenyamanan. Apakah hadirnya turis tidak akan mengganggu habitat mereka?. Jawabannya bisa ya bisa tidak. Pak JK (dari berita yang dimuat di okezone.com) mengatakan bahwa harus ada pembatasan kuota turis ke Pulau Komodo. Pulau Komodo tidak bisa seperti Bali yang semua orang bisa masuk ke sana.

Selain itu, sudah menjadi tugas kita untuk membuat Komodo tetap nyaman dengan habitatnya tanpa mengesampingkan pendapatan yang berasal dari pariwisata. Saat ini juga sudah banyak dilakukan metode konservasi yang berbasis masyarakat. Artinya masyarakat harus mendapatkan hasil kompensasi dari usaha mereka melestarikan alam.

Akan tetapi jika aturan yang sudah dibuat tidak dilaksanakan tentunya akan mendatangkan bencana bagi komodo itu sendiri. Mereka akan terusik karena hadirnya para turis. Di sinilah peran kita dituntut untuk turut menjaga komodo. Jangan sampai kita terbuai dengan rupiah dan kebanggaan akan komodo tetapi malah tidak memperhatikan keadaan komodo. Ini adalah sebuah pekerjaan rumah yang besar yang harus segera kita kerjakan.

Saya masih ingat perkataan Pak Jero Wacik beberapa saat lalu (saat itu masih menjabat sebagai Menbudpar). Saat isu keikut sertaan komodo dalam pemilihan The New 7 Wonder terancam gagal karena terhambat biaya administrasi yang sangat besar. Beliau mengatakan bahwa komodo akan tetap jadi keajaiban dunia, karena memang begitulah adanya. Artinya, tanpa ada ajang pemilihan ini pun sudah seharusnya kita bangga dan menjaga komodo. Semangat seperti inilah yang harus kita pupuk agar komodo tetap lestari di Nusantara ini. Karena kita juga merupakan bagian dari bumi ini.