Hormon Reproduksi pada Sapi Betina

Sekilas tentang Hormon

Untuk bisa memahami gangguan reproduksi, khususnya pada hewan ruminansia kita wajib hukumnya memahami tentang hormon-hormon yang terlibat dalam sistem reproduksi. Hormon adalah substansi kimia yang memiliki fungsi sebagai pembawa pesan antara satu kelompok sel dengan kelompok sel lain. Hormon bekerja secara spesifik jadi hanya sel yang mempunyai reseptor yang bisa menerima pesan tersebut. Hormon bisa dianalogikan sebagai pembawa pesan dalam masa perang yang bertugas menyampaikan pesan terenkripsi yang hanya bisa dimengerti oleh kelompok target penerima pesan. Hal ini dikenal dengan istilah gembok dan kunci.

Hormon begitu penting sebagaimana pentingnya komunikasi dalam sebuah hubungan apasih. Jika komunikasi tidak lancar maka fungsi-fungsi organ reproduksi juga akan terganggu.

Hormon-hormon Reproduksi Betina

Gonadotropin Releasing Hormon (GnRH)

Gonadotropin Releasing Hormon (GnRH) diproduksi oleh hypothalamus. Hypothalamus merupakan suatu bagian pada otak bagian ventral. Produksi GnRH di hypothalamus adalah bentuk respon dari tingginya kadar estrogen dalam darah. GnRH mempunyai fungsi untuk menstimulasi kelenjar pituitari (bersama-sama dengan estrogen) untuk memproduksi LH dan FSH.

Follicle Stimulating Hormon (FSH)

FSH diproduksi oleh kelenjar pituitari. Kelenjar pituitari terletak di bagian bawah batang otak dan memproduksi banyak hormon lain selain hormon reproduksi. FSH mempunyai target organ pada ovarium. FSH mempunyai efek perubahan morfologi ovarium. FSH akan menstimulasi perkembangan folikel pada ovarium menjadi folikel de graaf (folikel yang matang/ folikel yang siap ovulasi).

Luteinizing Hormon (LH)

Sama dengan FSH luteinizing Hormon juga diproduksi oleh kelenjar pituitari dan mempunyai target organ ovarium. Fungsi dari LH juga merubah morfologi dari ovarium. Namun berbeda dengan FSH, LH menstimulasi terbentuknya corpus luteum atau sisa dari folikel yang usdah ovulasi. LH juga menstimulasi terjadinya ovulasi. Ini kita kenal sebagai LH Surge atau lonjakan LH yang akan menstimulasi terjadinya ovulasi.

Estrogen

Estrogen dihasilkan di folikel. Semakin besar ukuran folikel maka akan semakin banyak/ semakin tinggi kadar estrogen dalam darah. Hormon estrogen ini yang akan membuat sapi menunjukkan gejala-gejala berahi. Tingginya kadar oksigen dalam darah, bersamaan dengan tingginya kadar GnRH akan memicu pengeluarn LH yang kemudian akan menstimulasi ovulasi.

Progesteron

Progesteron disebut juga hormon kebuntingan. Hormon ini bertugas untuk mempertahankan kebuntingan. Pada sapi betina hormon ini diproduksi pada corpus luteum. Hormon progesteron ini akan menekan produksi LH dan FSH. Inilah yang menyebabkan pada saat bunting hewan tidak menunjukka gejala berahi.

Prostaglandin

Prostaglandin dihasilkan oleh uterus. Hormon ini mempunyai fungsi untuk menghancurkan corpus luteum. Artinya hormon ini bekerja pada saat mendekati proses kelahiran. Saat fetus sudah mencapai masa kelahiran maka tubuh fetus sudah semakin besar dan ruang uterus akan terasa sempit sehingga fetus mengalami stress. Fetal stress inilah yang akan menstimulus disekresikannya hormon prostaglandin yang memicu terjadinya proses kelahiran.

Oxytocin

Oxytocin merupakan hormon yang berperan pada saat proses kelahiran dan setelah kelahiran. Pada proses kelahiran hormon ini akan menstimulasi kontraksi otot-otot uterus sehingga proses kelahiran terjadi. Pasca kelahiran hormon ini berfungsi sebagai milk let down atau hormon yang membantu pengeluaran susu dari induk.

Setelah memahami fungsi dan target organ hormon tersebut di atas kita akan lebih mudah memahami gangguan reproduksi dan cara penanggulangannya. Selanjutnya saya akan mencoba membahas satu-persatu gangguan reproduksi serta hormon yang terlibat dan cara penanggulangannya. Salam!

Leave a Reply