Gangguan Reproduksi pada Sapi Bali

Gangguan reproduksi pada Sapi Bali masih menjadi permasalahan yang sering dihadapi oleh para peternak. Meskipun tingkat mortalitasnya sangat kecil tetapi kerugian ekonomi yang timbul cukup signifikan. Sistem peternakan sapi di Indonesia mengharuskan peternak untuk melakukan breeding sendiri. Tidak ada suplai bakalan yang bisa dimanfaatkan oleh peternak. Ini membuat gangguan reproduksi menjadi fokus utama peternak.

Gangguan Reproduksi Sapi Bali

Sapi Bali Betina

Gangguan Reproduksi vs Penyakit Reproduksi

Kondisi kesehatan sapi yang mengalami gangguan reproduksi bisa dibilang normal/ tidak sakit namun proses fisiologis hewan terganggu, maka dari itu penyebutannya adalah Gangguan Reproduksi, bukan Penyakit Reproduksi. Penyakit Reproduksi merujuk pada kondisi dimana organ reproduksi terinfeksi agen penyakit tertentu yang menyebabkan kondisi tubuh sapi secara umum terganggu. Gangguan reproduksi erat kaitannya dengan sistem hormon. Jadi yang menjadi batasan adalah kondisi umum hewan, jika kondisi hewan masih sehat akan tetapi terjadi gangguan pada sistem reproduksinya maka disebut gangguan reproduksi, namun jika kondisi hewan tidak sehat disebabkan oleh organ reproduksi disebut penyakit reproduksi.

Beberapa gangguan reproduksi yang paling sering ditemukan pada sapi Bali adalah sebagai berikut:

Silent Heat/ Berahi Tenang

Silent Heat atau berahi tenang adalah suatu kondisi dimana sapi Bali betina mengalami berahi tetapi tidak menunjukkan tanda-tanda berahi secara jelas. Karena tanda-tanda yang muncul tidak jelas maka membuat peternak luput dalam pengamatan berahi dan membuat sapi terlambat dikawinkan. Hal ini biasanya disebabkan oleh faktor nutrisi yang kurang. Zat gizi yang kurang (biasanya mineral) membuat ekspresi hormon reproduksi tidak jelas. Kondisi defisiensi nutrisi berkelanjutan bisa mengakibatkan gangguan yang lebih serius yaitu hipofungsi ovari atau penurunan fungsi dari indung telur dan bahkan bisa mengakibatkan atrofi ovari atau penyusutan indung telur.

Repeat Breeder/ kawin berulang

Penyebab dari gangguan reproduksi ini adalah kematian embrio dini/ early embryonic death. Matinya embrio menyebabkan sapi akan terus menunjukkan berahi meskipun sudah dikawinkan. Yang menjadi ciri dari gangguan reproduksi ini adalah siklus berahi yang normal. Penyebab matinya embrio sendiri bisa dipengaruhi oleh banyak faktor seperti tidak optimalnya kondisi rahim, kegagalan implantasi dan lain-lain.

Endometritis/ Radang Rahim

Pada saat berahi mulut rahim sapi akan terbuka dan rentan terhadap infeksi. Higienitas kandang yang kurang baik atau pelaksanaan inseminasi buatan yang kurang baik bisa memicu terjadinya radang rahim.

Corpus Luteum Persistent

Ini adalah suatu kondisi dimana Corpus Luteum yang seharusnya meluruh karena hormon prostaglandin tetap bertahan. Corpus Luteum adalah organ pembuat hormon progesteron atau bisa kita sebut hormon kebuntingan. Dengan adanya hormon progesteron yang dihasilkan secara terus menerus oleh Corpus Luteum maka sapi betina akan menunjukkan gejala seolah-olah bunting tetapi faktanya tidak. Meskipun tidak selalu tetapi biasanya kasus Corpus Luteum Persistent berhubungan dengan kasus endometritis.

Masih ada beberapa lagi gangguan reproduksi yang belum kita bahas. Akan saya sampaikan di lain kesempatan. Salam!

One thought on “Gangguan Reproduksi pada Sapi Bali

Leave a Reply