Secercah Harapan Untuk KOMODO

Apakah Komodo tidak akan terusik dengan kehadiran para turis di habitat mereka? Apakah mereka akan tetap merasa nyaman?

Indonesia Komodo Dragon AttackKomodo (Varanus komodoensis) akhir-akhir ini memang ramai dibicarakan. Hal ini terkait keikutsertaan komodo dalam ajang pemilihan The New 7 Wonder. Bangsa Indonesia tentu sangat bangga akan hal tersebut. Semua orang dengan caranya masing-masing memberikan dukungan kepada Komodo. Yang paling mudah tentunya dengan mengirimkan SMS KOMODO 9818.

Tetapi yang ingin saya soroti bukan tentang besarnya dukungan dan optimisme rakyat Indonesia akan hal ini. Beberapa hari lalu melalui jejaring sosial Facebook saya terlibat diskusi yang cukup menarik. Status dari teman saya yang mengajak untuk mengirimkan sms dukungan untuk Komodo mendapat respon yang menurut saya menarik. Intinya ada yang menanyakan bagaimana keadaan Komodo seandainya nanti terpilih menjadi The New 7 Wonder. Apakah Komodo akan tetap nyaman setelah Pulau Komodo menjadi tujuan wisata? Bagaimana dari segi ekologisnya?. Sangat menarik, diantara maraknya dukungan kepada Komodo ternyata ada yang menyangsikan hal itu.

Continue reading

Karena kita adalah bagian dari Bumi

Beberapa hari yang lalu saya terlibat dalam sebuah diskusi yang cukup seru di rumah kontrakan saya. Memang sudah menjadi tradisi kami untuk mengkritisi semua hal yang kami anggap baru. Yang menjadikan diskusi kami selalu menarik ialah karena rumah kontrakan kami dihuni oleh enam orang dari enam fakultas yang berbeda. Jadi setidaknya ada enam sudut pandang keilmuan yang berbeda, walaupun kami terkadang belum benar-benar paham tentang masalah yang dibicarakan. Malam itu kami berbicara masalah kampanye perlindungan terhadap orang utan yang akhir-akhir ini kembali marak di social media. Satu pertanyaan yang saya dengar malam itu adalah “seberapa penting sih keanekaragaman hayati bagi kita?’”.

Tidak semua orang mengerti pentingnya keanekaragaman hayati. Mungkin saat ini orang-orang yang tidak peduli terhadap keanekaragaman hayati termasuk orang yang tidak paham tentang keanekaragaman hayati itu sendiri. Walaupun ada juga orang yang paham tetapi tidak peduli. Keanekaragaman hayati sangat penting bagi kita. Bumi dapat diibaratkan menjadi sebuah kesatuan. Atau sebuah tubuh. Semua yang ada di bumi ini saling berkaitan. Tentunya termasuk kita umat manusia. Seperti halnya tubuh manusia. Ketika ada suatu bagian yang terganggu maka bagian lain akan ikut merasakan efeknya. Begitu juga dengan bumi kita ini. Satu komponen saja dari bumi ini ada yang berubah maka akan menimbulkan efek terhadap komponen bumi yang lain.

Saya mengutip dari situs WWF yang menganalogikan bumi sebagai sebuah mesin. Terdiri dari roda, gerigi, dan lain-lain. Seperti halnya mesin yang selalu dinamis bumi juga demikian. Adanya perubahan yang terjadi pada bagian bumi, katakanlah suatu spesies tertentu maka akan dikompensasi oleh komponen yang lain. Di sekolah dasar kita diajarkan tentang keseimbangan antara mangsa dan predator. Jadi bumi punya mekanisme sendiri dalam mengatasi perubahan yang terjadi. Namun bumi juga mempunyai batas tertentu dalam menyeimbangkan keadaan. Seperti pegas yang kita tarik terlalu kuat maka pada suatu titik tertentu akan kehilangan gaya pegasnya. Itulah yang terjadi pada bumi kita saat ini. Kita telah sampai pada suatu keadaan yang tidak bisa diseimbangkan kembali oleh bumi.

Sudah saatnya kita sadar akan hal ini. Jika saya ditanya mengapa keanekaragaman hayati itu penting bagi manusia karena manusia adalah bagian dari bumi itu snediri. Bagian yang akan turut merasakan sakit apabila bagian lainnya sakit.

Selamatkan Bumi Kita!

Sumber bacaan

Situs WWF

Kunjungan Ke Pusat Primata Schmutzer Bersama Keluarga Besar CHELONIA

Sabtu 24 September 2011 Himpunan Minat dan Profesi Satwaliar (HIMPRO SATLI) FKH IPB mengadakan kunjungan ke Pusat Primata Schmutzer. Kunjungan ini merupakan rangkaian kegiatan SATLI WEEK (Satwaliar) 2011. Kunjungan ini diikuti oleh mahasiswa dari berbagai Fakultas Kedokteran Hewan di seluruh Indonesia yang tergabung dalam CHELONIA (Forum Komunikasi Mahasiswa Pemerhati Satwa Liar FKH Indonesia). Dalam kesempatan ini hadir delegasi mahasiswa FKH pemerhati satwa liar dari UGM, UNAIR, UB, dan UNUD.

Kunjungan ini diawal dengan diskusi bersama drh. Syafri Edwar dari TMR. Diskusi ini membahas seputar masalah yang sering dihadapi dokter hewan dalam menangani satwa liar. Menurut beliau satwa liar berbeda dengan hewan domestik. Satwa liar akan menunjukkan gejala saat penyakit sudah benar-benar parah. Sehingga untuk menangani masalah kesehatan pada satwa liar banyak dilakukan upaya preventif. TMR sendiri melakukan upaya preventif secara rutin seperti pemberian obat cacing, pemberian vitamin, dan vaksinasi. Selain itu pada satwa liar juga dikenal istilah individu specific artinya setiap individu bisa menampilkan gajala yang berbeda untuk penyakit yang sama. Hal tersebut menyulitkan dokter hewan untuk melakukan diagnosa. Dokter hewan yang bekerja dengan satwa liar juga harus mengerti perilaku satwa. Pemahaman tentang perilaku satwa yang baik akan memudahkan dokter hewan dalam melakukan handling dan restrain terhadapa satwa. Selain untuk memudahkan handling dan restrain pemahaman tentang perilaku satwa juga akan sangat membantu dalam penentuan diagnosa.

Continue reading