Biosafety Level (BSL)

Jika Anda orang yang berkecimpung di dunia laboratorium tapi Anda tidak memiliki latar belakang yang sesuai mungkin Anda akan bingung dengan istilah BSL. BSL atau biosafety level adalah tingkatan kemampuan suatu alat atau fasilitas dalam mengurung suatu mikroba tertentu. Hal ini diperlukan untuk mencegah bocornya mikroba berbahaya ke lingkungan dan mengurangi risiko petugas yang ada di laboratorium terpapar mikroba tersebut. Sebelum membahas lebih dalam tentang BSL ada baiknya kita menyegarkan Kembali ingatan kita tentang Biosafety.

Biosafety

Lambang Biohazard untuk ruangan atau fasilitas dengan biosafety level tertentu (BSL)

Biosafety adalah aplikasi tindakan pencegahan keamanan yang bertujuan mengurangi risiko petugas laboratorium terpapar pada mikroba infeksius dan membatasi kontaminasi di lingkungan kerja laboratorium khususnya dan umumnya ke masyarakat luas (CDC). Konsep biosafety lebih menitik beratkan pada keamanan petugas yang bekerja dengan mikroba berbahaya. Penerapan biosafety bisa berupa fasilitas, peralatan, dan juga aturan seperti standard operating procedure (SOP).

Biosafety Level (BSL)

Tingkatan penerapan biosafety disebut biosafety level atau biasa disingkat dengan BSL. Sebuah fasilitas dengan level BSL tinggi artinya sudah menerapkan biosafety dengan sangat baik. Tingkatan BSL ini juga bisa diartikan sebagai kemampuan dari sebuah laboratorium untuk menjaga mikroba tetap berada di dalam lab tersebut atau menjaga agar mikroba tidak bocor. BSL akan ditandai dengan angka yaitu BSL 1, BSL 2, BSL 3, dan BSL 4. Semakin tinggi angka Sbl maka semakin kuat kemampuan fasilitas atau peralatan tersebut meng-contain mikroba. Penentuan BSL ini diatur dalam aturan internasional dalam hal ini WHO (silakan lihat panduannya di sini). Penerapan BSL ini didukung oleh tiga aspek yaitu:

  • Tata laksana pekerjaan (Standard operating procedure, mikroba yang boleh dikerjakan, dll.)
  • Peralatan (Masker, alat pelindung diri (APD) dll.)
  • Fasilitas (Tekanan negatif, suplai udara (AHU), double door, penanganan limbah dll.)

Penerapan BSL ini pun berjenjang. Artinya untuk menerapkan BSL 2 sebuah laboratorium harus terlebih dahulu menerapkan BSL 1 dan begitu seterusnya. Walaupun BSL 4 harus berada di bangunan yang terpisah tetapi prinsip-prinsip BSL 1 hingga BSL 3 tidak boleh ditinggalkan.

Tingakatan risiko biosafety level (BSL)

Kriteria masing-masing BSL

Berdasarkan tiga aspek di atas penggolongan BSL dapat dibagi menjadi 4 tingkatan yaitu:

Tingkatan BSL

Tata Laksana

Peralatan

Fasilitas

Contoh Mikroba yang boleh dikerjakan

BSL 1

Diperbolehkan menangani mikroba di meja terbuka

Jas Lab, sarung tangan, pelindung mata

Disediakan tempat cuci tangan (sink), lab harus memiliki pintu sendiri yang terpisah dari pintu kantor

E. coli non patogen

BSL 2

Akses masuk ke Lab harus dibatasi ketika ada pekerjaan dengan mikroba

Alat pelindung diri (jika dibutuhkan) sarung tangan dan pelindung mata, Biosafety Cabinet (BSC), tersedia autoclave untuk sterilisasi limbah

Pintu harus bisa menutup otomatis, tersedia sink dan pencuci mata

Staphylococcus aureus

BSL 3

Petugas lab selalu diawasi kesehatannya dan menerima imunisasi terhadap penyakit terkait mikroba yang dikerjakan, akses ke lab terbatas (yang tidak berkepentingan dilarang masuk)

Wajib menggunakan APD, pekerjaan wajib dilakukan di BSC yang sesuai

Sink dan pencuci mata otomatis (tidak menggunakan tangan) di dekat pintu keluar, Udara tidak boleh di resirkulasi (harus memiliki fasilitas AHU (Air Handling Unit), Akses masuk dan keluar harus menggunakan double door.

Mycobacterium tuberculosis

BSL 4

Mengganti baju sebelum masuk, mandi sebelum keluar lab, dekontaminasi semua peralatan dan bahan yang digunakan sebelum

Pekerjaan dilakukan di dalam BSC level 3 atau menggunakan pakaian full body yang disuplai udara bersih terus menerus,

Harus berada di Gedung terpisah, harus memiliki AHU terpisah dan memiliki sistem dekontaminasi sendiri

Virus Ebola

Penggunaan laboratorium dengan BSL tertentu bisa berbeda di masing-masing wilayah. Hal ini terjadi dengan status mikroba tertentu di suatu daerah. Walaupun mikroba yang dikerjakan bisa menggunakan BSL 3 tetapi mikroba tersebut bersifat eksotis maka bukan tidak mungkin kebutuhannya meningkat menjadi BSL 4. Semua itu didasarkan pada Analisa risiko. Kembali ke konsep awal bahwa tujuan dari BSL adalah sebagai manajemen risiko dari pekerjaan yang berhubungan dengan mikroba.

BSL dan BSC

Membahas BSL perlu juga kit bahas BSC (biosafety cabinet) agar tidak salah paham. Jika BSL adalah sebuah persyaratan maka BSC adalah salah satu prasyarat untuk mencapai tingkatan BSL tertentu. BSC sendiri merupakan sebuah alat untuk kita melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan mikroba. Sesuai dengan Namanya yaitu cabinet atau sebuah lemari. BSC secara umum mirip dengan lemari asam, tetapi BSC dikhususkan untuk pekerjaan menggunakan mikroba. Seperti halnya BSL, BSC juga memiliki tingkatan seperti BSC level 2 atau BSC level 3. Tingkatan BSC ini juga mencerminkan kemampuan BSC dalam meng-contain mikroba.

Tantangan penerapan BSL

Penerapan BSL pada intinya adalah meminimalkan risiko. Ketiga aspek yaitu Tata laksana, peralatan dan fasilitas ini juga mencakup skill dari petugas lab. Ini yang menyebabkan lab dengan BSL tinggi tidak murah. Karena status BSL tertentu adalah sesuatu berkesinambungan. Jika tidak dipertahankan maka status tersebut bisa saja gugur. Mungkin ini juga yang menjadi alasan penyediaan tes untuk covid di Indonesia tertinggal dari negara maju. Karena untuk menangani virus Covid-19 diperlukan BSL 2 (sumber berita) dengan segala kriteria yang harus dipenuhi.

Kesimpulan

BSL sangat penting dalam pekerjaan yang berhubungan mikroba. BSL merupakan sebuah konsep yang melibatkan semua aspek di laboratorium. Tujuan akhir dari BSL adalah untuk melindungi umat manusia dari kecelakaan yang mungkin terjadi di laboratorium.

Baca juga tulisan saya tentang Biosafety yang lainnya. Terima kasih, Salam Sehat!

Tinggalkan komentar