Hormon Reproduksi pada Sapi Betina

Sekilas tentang Hormon

Untuk bisa memahami gangguan reproduksi, khususnya pada hewan ruminansia kita wajib hukumnya memahami tentang hormon-hormon yang terlibat dalam sistem reproduksi. Hormon adalah substansi kimia yang memiliki fungsi sebagai pembawa pesan antara satu kelompok sel dengan kelompok sel lain. Hormon bekerja secara spesifik jadi hanya sel yang mempunyai reseptor yang bisa menerima pesan tersebut. Hormon bisa dianalogikan sebagai pembawa pesan dalam masa perang yang bertugas menyampaikan pesan terenkripsi yang hanya bisa dimengerti oleh kelompok target penerima pesan. Hal ini dikenal dengan istilah gembok dan kunci.

Continue reading

Diagnosa Kebuntingan pada Ruminansia Besar

Diagnosa kebuntingan pada ruminansia besar memiliki nilai ekonomi yang cukup besar. Sangat penting bagi peternak untuk mengetahui apakah ternaknya buntung atau tidak. Keterlambatan kebuntingan akan menyebabkan keurgian pada peternak, kerugian berupa kerugian biaya pakan yang harus dikeluarkan dan kerugian waktu.

Diagnosa kebuntingan dapat dilakukan dengan beberapa cara:

  1. Betina menolak untuk dikawini. Cara ini merupakan cara tradisional untuk mendiagnosa kebuntingan, caranya dengan mengamati 21  hari setelah indukan sapi dikawinkan atau diinseminasi, jika indukan menolak untuk dikawinkan maka indukan tersebut diduga bunting. Cara ini biasanya dilakukan untuk mencegah inseminasi pada indukan bunting yang akan menyebabkab aborsi.
  2. Pengukuran kadar progesteron juga dapat digunakan sebagai diagnosa kebuntingan pada sapi. Peeriksaan dengan cara ini meminimalkan pengaruh yang dapat timbul akibat pemeriksaan dengan cara palpasi rektal.
  3. Pemeriksaan protein spesisfik pada kebuntingan (pregnancy-spesific protein). Untuk memeriksa keberadaan portein ini dilakukan pemeriksaan secara imunologis pada serum hewan yang diduga bunting.
  4. Pemeriksaan dengan menggunakan USG. Pemeriksaan menggunakan USG dapat dilakukan setelah hari kke-17.
  5. Palpasi fetus. Cara ini merupakan cara yang langsung memeriksa adanya fetus dalam uterus. Cara ini aman dilakukan namun dapat dilakukan setelah fetus berumur 40 hari.

Bahan Bacaan

Ball, PJH & AR Peters. Reproduction in Cattle 3rd Edition. UK: Blackwell Publishing

http://www.articlesbase.com

Biosecurity dan Biosafety

Biosafety dan biosecurity merupakan dua hal yang saling berkaitan. Keduanya mempunyai tujuan untuk menjamin keamanan dari bahaya biologis. Tetapi meski tujuannya sama biosecurity dan biosafety merupakan dua hal yang berbeda. Biosecurity adalah usaha untuk menjaga suatu daerah dari masuknya agen penyakit, menjaga tersebarnya agen penyakit dari daerah tertentu, dan menjaga agar suatu penyakit tidak menyebar di dalam daerah tersebut. Sedangkan biosafety adalah usaha yang dilakukan agar orang yang bekerja dengan bahan biologi berbahaya terlindungi dari bahan bahaya bahan biologi yang ditanganinya.

Upik K. Hadi menyebutkan secara sederhana biosecurity adalah usaha untuk melindungi kehidupan. Biosecurity mempunyai peranan penting dalam pencegahan penyebaran penyakit. Dalam suatu usaha peternakan biosecurity merupakan sesuatu sistem yang dapat melokalisasi agen penyakit sehingga tidak menyebar ke tempat lain atau di dalam peternakan itu snediri.

Berbeda dengan biosecurity, biosafety adalah suatu konsep yang mengamankan orang yang bekerja dengan suatu bahan biologis. Misalnya orang yang bekerja dengan suatu virus yang dapat menimubulkan penyakit berbahaya maka orang tersebut harus mengunakan sarung tangan. Jadi biosecurity adalah suatu konsep yang mengatur orang yang bekerja atau bersnetuhan dengan objek bilogis berbahaya agar terhindar dari bahaya objek biologis tersebut.

Biosafety dan biosecurity biasanya dijalankan secara bersamaan. Karena pada intinya biosceurity juga mendukung terlaksananya biosafety, begitu juga sebaliknya. (Agung Sudomo).