Strategi Pengendalian Penyakit Jembrana

Penyakit Jembrana saat ini masih menjadi pekerjaan rumah bagi pengembangan Sapi Bali. Potensi sapi bali sebagai sapi potong sudah terbukti luar biasa, namun tanpa strategi pengendalian yang tepat maka cita-cita menjadikan sapi bali sebagai komponen pemenuhan swasembada daging masih akan sulit terwujud.

Etiologi

Penyakit jembrana merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus jembrana. Penyebutan penyakit Jembrana sendiri merujuk kepada nama daerah di Bali yaitu tempat virus Jembrana berasal. Virus jembrana atau Jembrana Disease Virus (JDV) merupakan anggota dari genus lentivirinae dalam sub-famili orthoretrovirinae dan famili retrovirinae. JDV merupakan virus RNA.

Continue reading

Patogenesa Ketosis pada Sapi

sumber





Ketosis adalah suatu keadaan dimana badan-badan keton menumpuk di dalam tubuh. Penyakit ini termasuk penyakit metabolik. Artinya kondisi ini sebagai efek dari proses metabolisme. Ketosis biasanya terjadi pada masa awal laktasi. Pada masa ini terjadi keseimbangan negatif energi terutama pada sapi dengan produksi susu yang tinggi. Keseimbangan negatif ini memaksa sapi untuk melakukan glukoneogenesis agar dapat mencukupi kebutuhan energi dalam tubuh. Proses pemenuhan energi pada glukoneogenesis berbeda dengan proses normal dan menghasilkan hasil samping yaitu badan-badan keton. Dalam proses glukoneogenesis dimobilisasi sel-sel adiposa. Mobilisasi sel-sel adiposa diikuti dengan meningkatnya level NEFA (Non Esterified Fatty Acid) dalam darah yang kemudian akan dirubah menjadi badan-badan keton di hati. Badan-badan keton adalah aseton, aseto-asetat, dan β-hydroxybutyrate (BHB). Secara pasti penyebab ketosis belum diketahui, namun selalu benrhubungan dengan peningkatan glukosa yang meningkat dan mobilisasi sel lemak.

Ketosis primer dan ketosis sekunder

Penyebab ketosis pada awal laktasi berbeda dengan ketosis pada puncak produksi susu. Ketosis pada awal laktasi banyak dihubungkan dengan fatty liver sedangkan ketosis pada puncak produksi susu disebabkan karena pakan yang diberikan tidak cukup baik dari segi kualitas maupun kuantitas.

Ketosis dapat dibedakan menjadi ketosis primer dan ketosis sekunder, ketosis primer adalah ketosis yang terjadi tanpa ada gejala patologis dalam tubuh sapi, sedangkan ketosis sekunder adalah ketosis yang terjadi akibat pengaruh dari keadaan patologis pada tubuh sapi tersebut. Ketosis primer terjadi karena memang tubuh melakukan proses glukoneogenesis untuk memenuhi kebutuhan energi tubuh. Selain ketosis primer juga bisa saja terjadi proses ketosis akibat terganggunya fungsi fisiologis dari organ lain di dalam tubuh.

Bahan Bacaan

http://vet02ugm.wordpress.com/2009/04/10/ketosis-acetonemia-pada-sapi-perah/

http://budaxperah.wordpress.com/2009/03/28/ketosis-acetonemia-pada-sapi-perah/

http://www.merckvetmanual.com/mvm/index.jsp?cfile=htm/bc/80900.htm

http://koranpdhi.com/buletin-edisi1/edisi1-ketosis.htm

Diagnosa Kebuntingan pada Sapi

Manfaat Diagnosa Kebuntingan

Diagnosa kebuntingan pada sapi memiliki nilai ekonomi yang cukup besar. Sangat penting bagi peternak untuk mengetahui apakah ternaknya buntung atau tidak. Keterlambatan kebuntingan akan menyebabkan keurgian pada peternak, kerugian berupa kerugian biaya pakan yang harus dikeluarkan dan kerugian waktu.

Teknik Diagnosa Kebuntingan

Diagnosa kebuntingan dapat dilakukan dengan beberapa cara:

  1. Betina menolak untuk dikawini. Cara ini merupakan cara tradisional untuk mendiagnosa kebuntingan, caranya dengan mengamati 21  hari setelah indukan sapi dikawinkan atau diinseminasi, jika indukan menolak untuk dikawinkan maka indukan tersebut diduga bunting. Cara ini biasanya dilakukan untuk mencegah inseminasi pada indukan bunting yang akan menyebabkab aborsi.
  2. Pengukuran kadar progesteron juga dapat digunakan sebagai diagnosa kebuntingan pada sapi. Peeriksaan dengan cara ini meminimalkan pengaruh yang dapat timbul akibat pemeriksaan dengan cara palpasi rektal.
  3. Pemeriksaan protein spesisfik pada kebuntingan (pregnancy-spesific protein). Untuk memeriksa keberadaan portein ini dilakukan pemeriksaan secara imunologis pada serum hewan yang diduga bunting.
  4. Pemeriksaan dengan menggunakan USG. Pemeriksaan menggunakan USG dapat dilakukan setelah hari kke-17.
  5. Palpasi fetus. Cara ini merupakan cara yang langsung memeriksa adanya fetus dalam uterus. Cara ini aman dilakukan namun dapat dilakukan setelah fetus berumur 40 hari.

Bahan Bacaan

Ball, PJH & AR Peters. Reproduction in Cattle 3rd Edition. UK: Blackwell Publishing

Apa perbedaan Biosecurity dan Biosafety?

Biosafety dan biosecurity merupakan dua hal yang saling berkaitan. Keduanya mempunyai tujuan untuk menjamin keamanan dari bahaya biologis. Tetapi meski tujuannya sama biosecurity dan biosafety merupakan dua hal yang berbeda. Biosecurity adalah usaha untuk menjaga suatu daerah dari masuknya agen penyakit, menjaga tersebarnya agen penyakit dari daerah tertentu, dan menjaga agar suatu penyakit tidak menyebar di dalam daerah tersebut. Sedangkan biosafety adalah usaha yang dilakukan agar orang yang bekerja dengan bahan biologi berbahaya terlindungi dari bahan bahaya bahan biologi yang ditanganinya.

Upik K. Hadi menyebutkan secara sederhana biosecurity adalah usaha untuk melindungi kehidupan. Biosecurity mempunyai peranan penting dalam pencegahan penyebaran penyakit. Dalam suatu usaha peternakan biosecurity merupakan sesuatu sistem yang dapat melokalisasi agen penyakit sehingga tidak menyebar ke tempat lain atau di dalam peternakan itu snediri.

Faktor pembeda

Berbeda dengan biosecurity, biosafety adalah suatu konsep yang mengamankan orang yang bekerja dengan suatu bahan biologis. Misalnya orang yang bekerja dengan suatu virus yang dapat menimbulkan penyakit berbahaya maka orang tersebut harus mengunakan sarung tangan. Jadi biosecurity adalah suatu konsep yang mengatur orang yang bekerja atau bersentuhan dengan objek bilogis berbahaya agar terhindar dari bahaya objek biologis tersebut. Secara mendasar bedanya biosecurity dan biosafety adalah biosecurity menitik beratkan pada lingkungan sedangkan biosafety menitik beratkan pada manusia.

Perbedaan biosafety dan biosecurity di peternakan

Biosafety dan biosecurity biasanya dijalankan secara bersamaan. Karena pada intinya biosceurity juga mendukung terlaksananya biosafety, begitu juga sebaliknya. Biosafety maupun biosecurity bisa berupa aturan yang harus ditaati (standard operating procedures, atau instruksi kerja) atau bisa juga berupa fasilitas. Contoh biosecurity yang berupa fasilitas adalah adanya foot dipping di pintu masuk peternakan. Contoh biosafety yang berupa fasilitas adalah adanya tempat cuci tangan di area peternakan. Dalam pelaksanaannya bisa saja terjadi overlap antara biosafety dan biosecurity.

Contoh perbedaan biosecurity dan biosafety di pandemi covid-19

Saat terjadi pandemi covid-19 kita bisa melihat perbedaan antara biosecurity dan biosafety. Kita ambil contoh penggunaan masker. Penggunaan masker adalah usaha biosafety dari sudut pandang pengguna dan peraturan yang mewajibkan menggunakan masker merupakan tindakan biosecurity. Jadi meskipun outcome-nya sama-sama menggunakan masker tapi pendekatannya bisa berbeda. Contoh lain misalnya pengecekan suhu sebelum kita masuk ke area tertentu, jelas ini merupakan tindakan biosecurity. Sedangkan membekali diri dengan hand sanitizer merupakan tindakan biosafety.

Masih banyak contoh di kehidupan sehari-hari maupun contoh kegiatan di peternakan yang bisa membantu kita memahami perbedaan antara biosecurity dan biosafety. Semoga dapat membantu anda memahami perbedaan biosafety dan biosecurity dan apakah anda memiliki pendapat lain? Silahkan ketik di kolom komentar, terima kasih.

Salam!