Kebaya dan Kartini

illustration from Pexels

Selamat hari Kartini wanita Indonesia. Telat sih sebenarnya, harusnya saya sudah posting tulisan ini 21 april ya haha. Tapi selalu ada alasan “lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali” haha. Sebenarnya beberapa hari ini saya ingin fokus menulis sesuatu yang lebih everlast gitu ketimbang menulis opini di blog yang ujung-ujungnya tidak ada yang baca hahaha. Tapi ya sudahlah, daripada terus berputar-putar di kepala mendingan langsung dituangkan saja ya kan hehe. Memang unek-unek ini muncul begitu saja out of nowhere. Inti dari tulisan ini juga sudah saya tuangkan di post instagram saya di bawah ini.

Continue reading

Take for Granted

Salah satu idiom yang sering saya gunakan akhir-akhir ini adalah “take for granted

Saya termasuk orang yang telat menguasai bahasa Inggris. Bahkan sampai sekarang pun saya masih harus banyak belajar. Baik itu grammar (tata bahasa) atau pun vocabulary (kosa kata). Ada sedikit rasa penyesalan karena saya merasa terlambat dalam belajar bahasa inggris. Sebenarnya untuk belajarnya sendiri sih tidak terlambat, tetapi penerapan bahasa inggrisnya yang terlambat. Karena pada dasarnya untuk menguasai suatu bahasa kita harus menggunakan bahasa tersebut. Mempelajari bahasa artinya sama dengan mempelajari budaya. Mempelajari bagaimana pola pikir sang penutur asli bahasa tersebut. Nah, yang menarik dari bahasa inggris adalah idiomnya. Salah satu idiom yang sering saya gunakan akhir-akhir ini adalah “take for granted“. Saya sudah mencari padanan atau arti dari take for granted dalam bahasa indonesia tapi sampai saya menulis tulisan ini saya belum ketemu padanan yang pas dari bahasa indonesia untuk idiom yang satu ini.

Takut salah ngomong

Pernah mengalami writer block? itulah yang saya alami sekarang. Kalau dulu setiap hari bisa update blog. Malahan saya sempat punya stok tulisan untuk dipost di blog. Sampai bisa bikin scheduled post. Tapi sepertinya masa-masa kejayaan ngeblog saya ecieeeh kejayaan haha sudah lewat. Kemudian saya mikir, apa ya kira-kira penyebab utama writer block yang saya alami. Saya merenung, mencoba memikirkan alasannya. Saya juga baca beberapa artikel tentang writer block dan bagaimana mengatasinya. Nah hasil dari perenungan saya bahwa saya mengalami writer block karena saya takut salah ngomong. Pepatah mulutmu adalah harimau mu memang benar dan sangat relevan dengan kondisi saat ini. Ketika ingin menulis tentang suatu hal yang agak sensitif saya jadi berpikir berulang kali. Apalagi zaman sekarang kita harus berhadapan dengan para netizen yang maha benar hehe Kalau belum siap jadi terkenal mending urungkan saja menulis hal-hal sensiitif. Memang seperti itulah konsekuensinya menjadi orang dewasa, ada masalah perut dan periuk yang harus dipikirkan juga. Lalu apa solusinya? ya mau ga mau saya harus belajar menulis mengenai hal-hal yang netral saja. Alasan lainnya yang menurut saya masuk akal adalah karena saya berhenti main twitter hampir 3 tahun belakangan ini. Kenapa twitter, karena twitter sendiri adalah platform microblogging, jadi bisa diibaratkan sebagai media untuk menguji materi yang akan kita tuangkan di blog. Banyak informasi yang bisa kita dapatkan dari twitter. Menulis dan membaca harus seimbang, apa yang kita tulis secara tidak langsung menggambarkan apa yang kita baca. Nah bagaimana dengan anda? Sudahkah anda menemukan solusi dari writer block yang anda alami?