Lesson of ramadhan

Meskipun saya sudah berniat membuat tulisan tentang Ramadhan tahun ini, tapi saya sempat bingung ingin seperti apa menulisnya. Sempat terpikir untuk membuat judul ala clickbait “Puasa 17 jam!” tapi saya urungkan. Akhirnya setelah blog walking ke blog nya Mas Bo saya jadi terinsprasi memberi judul Lesson of Ramadhan hehe. Bagi saya semua bulan ramadhan yang saya lalui punya kesannya masing-masing, tetapi ramadhan kali ini meberikan kesan lebih bagi saya karena untuk pertama kalinya saya menjalani ibadah puasa di negeri orang. Dan untuk pertama kalinya saya melaksanakan ibadah puasa di musim panas.

Awal mei 2018 saya ditugaskan oleh perusahaan untuk kembali berangkat ke Harbin, China. Setelah meminta izin ke istri akhirnya saya berangkat. Tidak ada sedikitpun keraguan yang terlintas di pikiran saya ketika saya berangkat. Saya sudah persiapkan segala sesuatunya dengan lebih baik jika dibandingkan dengan keberangkatan pertama saya. Karena bakal menjalani ibadah puasa saya sudah siap dengan kecap bango, sambel pecel, dan tentu saja Indomie. Saya juga berpikir kalau musim dingin saja saya baik-baik saja seharusnya di musim panas tentu tidak akan timbul banyak masalah. Karena say berasal dari negara tropis, saya sudah terbiasa dengan suhu yang panas. Saya juga sudah bertanya kepada kolega saya di Harbin dan infomasi yang saya dapatkan suhu musim panas di  harbinn paling tinggi sekitar 34 derajat celcius, tidak berbeda jauh dengan di Indonesia. Bismillah saya mantap untuk berangkat. Akhirnya saya sampai di Harbin pada pukul 8 malam. Setelah mandi dan bebersih akhirnya saya tidur. Jam 3:30 dini hari saya terbangun, matahari sudah tinggi. Saya cek handphone saya. Saya pastikan sekali lagi, mungkin saja karena pengaturan jam di handpone saya belum saya ubah ke waktu harbin. Ternyata memang benar masih jam 3:30 dini hari. Baru saya teringat bahwa di musim panas keadaan berbalik dibanding musim dingin. Malam menjadi sangat pendek sehingga jam 3 dini hari matahari sudah terbit. dan petualangan pun dimulai. Puasa 17 jam haha.

Sempat terpikir untuk membuat judul ala click bait “Puasa 17 jam!” tapi saya urungkan

Saya sempat ragu apakah saya bakal kuat atau tidak menjalani puasa selama itu, yang saya khawatirkan adalah bagaimana saya akan menahan rasa haus karena udara di Harbin sangat kering. Saya persiapkan dengan minum air putih sebayak-banyaknya kemudian saya juga berusaha membatasi aktivitas yang tidak perlu. Keadaan ini membuat saya kembali mengenang masa kecil saya di kala saya baru belajar berpuasa. Hal lain yang saya khawatirkan adalah suasana ramadhan yang pasti sangat bertolak belakang dengan suasana di Indonesia. Tidak ada makanan pembuka puasa berupa es buah yang segar dan manis. Bahkan kami berbuka dengan makanan yang dihangatkan terlebih dahulu karena kantin di perusahaan saya tutup setelah jam 4:30 sore, sedangkan waktu berbuka puasa adalah pukul 7:30 malam. Begitu juga dengan sahur nya. Kami sahur pada pukul 1:00 dini hari. Pukul 2:00 dini hari sudah masuk waktu Imsak dan kami mulai berpuasa. Kebayang kan gimana rasanya menjalani ibadah puasa tanpa mendengar suara adzan. Tapi entah mengapa justru saya merasa dekat dengan Sang Pencipta. Dan atas KuasaNya lah saya menjalani ibadah puasa tahun ini.

Selain itu saya juga jadi kepikiran tentang kondisi negara kita saat ini. Saya merasa tidak nyaman dengan pemberitaan di media, entah salah siapa tapi saya merasa urusan agama dan ibadah juga sudah dijadikan alat politik. Pesan yang ingin saya sampaikan sih cuma satu, terkadang kita perlu memposisikan diri kita sebagai minoritas supaya kita bisa lebih bijak dalam bertindak. Walaupun saya hanya sebentar mengalami menjadi minoritas tapi sudah cukup bagi saya untuk mengerti bahwa tidak enak menjadi minoritas. Maka dari itu janganlah kita menambah ketidak enakan saudara sebangsa dan se tanah air kita dengan hal-hal lain yang kadang tidak perlu diperdebatkan (baca juga Sholat Jumat di Harbin). Maka dari itu mari kita jadikan bulan ramadhan tahun ini menjadi momentum untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan bathin,

One thought on “Lesson of ramadhan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *